UJI POSTULAT KOCH

Nama : Dita Megasari Asisten :
NRP : A34080049 1. Puspiari G34052079
Kelompok : 10 BIO-3 2. Anastatia RH. G34052471
Tanggal : 08 Desember 2009

Tujuan
Mengetahui patogenisitas cendawan Colletotrichum capsici melalui uji Postulat Koch pada cabai.
Hasil Pengamatan
– Foto Hasil Pengamatan

Pembahasan
Postulat Koch merupakan penemuan luar biasa dalam dunia sains. Postulat-postulat Koch menyebutkan bahwa untuk menetapkan suatu organisme sebagai penyebab penyakit, maka organisme tersebut harus memenuhi sejumlah syarat, yakni: Pertama, ditemukan pada semua kasus dari penyakit yang telah diperiksa. Kedua, telah diolah dan dipelihara dalam kultur murni (pure culture). Ketiga, mampu membuat infeksi asli (original infection), meskipun sudah beberapa generasi berada dalam kultur. Keempat, dapat diperoleh kembali dari hewan yang telah diinokulasi dan dapat dikulturkan kembali.
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui dan melakukan uji terhadap postulat Koch dengan menggunakan bahan praktikum berupa cabai yang terserang oleh cendawan Colletrotichum capsici yang menyebabkan penyakit antraknosa pada cabai. Langkah awal yang dilakukan praktikan adalah mengisolasi cendawan antraknosa tersebut untuk dipindahkan dan ditumbuhkan dalam media biakan secara aseptik. Setelah beberapa hari dibiakkan dalam media, kemudian dilakukan Uji Koch pada cabai yang sehat. Setelah beberapa hari, berdasarkan postulat Koch seharusnya juga terserang antraknosa. Namun percobaan kelompok kami tidak terjadi patogenisitas yang disebabkan Colletrotichum capsici. Kegagalan uji postulat Koch ini kemungkinan disebabkan karena adanya kekurang hati-hatian dalam memindahkan biakan dari media ke cabe, kemungkinan terbesar adalah terlalu dekat dengan api saat pemindahan sehingga biakan yang di pindahkan mati. Hal ini terlihat tidak adanya organisme yang tumbuh pada cabai sehat.

Kesimpulan
Praktikum mengenai uji postulat Koch ini, kelompok kami belum berhasil. Hal ini terlihat tidak ditemukannya cendawan Colletrotichum capsici yang sama saat awal isolasi. Penyebabnya yaitu adanya kesalahan atau kurang ketelitian dalam melakukan setiap perlakuan terutama saat pemindahan biakan secara aseptik.

Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Robert_Koch

(Tanggal akses 4 Desember 2009)

http://queenofsheeba.wordpress.com/2008/08/06/postulat-koch/

(Tanggal akses 4 Desember 2009)

http://www.uark.edu/ua/jcorrell/colletotrichum%2520acutum%2520picture

(Tanggal akses 4 Desember 2009)

http://www.naturalnusantara.co.id/indek_3_3_3.php?id=45

(Tanggal akses 4 Desember 2009)

LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI PATOGEN TUMBUHAN

PENULARAN VIRUS SECARA MEKANIS

Oleh :
Dita Megasari (A34080049)
Ushwanuuri Rachmadhani Lestari (A34080063)
Meirza Safitri Rizky (A34080068)
Syaiful Khoiri (A34080069)
Minkhaya Silvana Putri (A34080074)
Mirza Aprilia (A34080075)
Rusman Arif (A34080079)

Dosen Pengajar :
Endang Nurhayati, Ph.D

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit pada tumbuhan dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor biotik dan faktor abiotik. Yang termasuk faktor abiotik adalah suhu ekstrim, kelembaban yang tidak sesuai, defisiensi hara, senyawa beracun (mineral, senyawa sintetik), dan polusi udara. Sedangkan yang termasuk faktor biotik adalah cendawan, bakeri dan fitoplasma, nematoda, tumbuhan tingkat tinggi misalnya benalu, serta virus/viroid.
Penularan virus dapat dilakukan secara mekanis. Inokulasi virus secara mekanis adalah pengolesan cairan yang mengandung virus pada permukaan daun sedemikian rupa sehingga virus dapat masuk ke dalam sel. Karena virus hanya dapat masuk ke sel tanaman melalui luka, maka digunakan carborundum untuk menimbulkan luka pada permukaan daun. Penusukan dengan jarum dapat menimbulkan kerusakan pada tempat masuk virus tetapi kadang-kadang hanya berguna untuk identifikasi jenis-jenis virus tertentu. Pada tanaman yang rentan, lesio lokal dapat terlihat pada daun yang di inokulasi, sedangkan gejala sistemik dapat terjadi pada bagian tumbuhan lain. Pada tanaman, jika terjadi infeksi laten maka tidak ada gejala yang tampak. (http://www.indoforum.org)
Pada dasarnya Tobacco Mosaic Virus merupakan virus dengan virulensi kuat sehingga dapat menyebabkan permukaan daun menjadi agak bergelombang, kasar dan mengkerut. Selain itu TMV merupakan virus yang stabil sehingga jika virus itu diinokulasikan pada tanaman lain akan dengan cepat menimbulkan gejala. Sedangkan pada Cucumber Mosaic Virus merupakan suatu virus yang tidak stabil sehingga jika suatu tanaman diinfeksi dengan CMV maka akan menimbulkan gejala, tetapi dibutuhkan waktu yang lama.
Tanaman indikator yang digunakan pada umumnya merupakan tanaman rentan. Pada tanaman ketimun Cassia ocidentalis yang diinokulasi adalah kotiledon dan daun pertamanya, tetapi pada Chenopodium amaranticolor gejala lesio lokal biasanya berkembang baik pada daun yang telah dewasa. Sap pada beberapa jenis tanaman dapat bersifat toksik terhadap tanaman uji atau mengandung zat penghambat yang sering kali dapat menghambat penularan virus ke tanaman uji. (www.pdfgeni.com).

1.2 Tujuan

Mempelajari dan melakukan prosedur penularan virus secara mekanis pada tanaman tembakau (Nicotiana sp.) dan Chenopodium amaranticolor, mengamati lesio lokal dan gejala sistemik yang ditimbulkan oleh infeksi virus serta membuktikan adanya gejala yang ditimbulkan dari penularan virus secara mekanis yang dilakukan dengan menginokulasikan virus dari sap pada tanaman yang sehat.

BAB II
BAHAN DAN METODE

2.1 Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah serbuk Carborondum, tanaman tembakau (Nicotiana sp.) dan Chenopodium amaranticolor yang belum terinfeksi virus, tanaman tembakau (Nicotiana sp.) yang sudah terinfeksi virus sebagai sumber inokulasi, buffer fosfat, dan air. Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah mortar dan penumbuk, gunting, gelas ukur, label, dan alat tulis.

2.2 Metode

Langkah awal adalah menyiapkan tanaman tembakau (Nicotiana sp.) yang telah terinfeksi Tobacco Mosaik Virus (TMV). Dari tanaman tembakau ini diambil daun yang konsentrasi virusnya paling tinggi yang terdapat pada daun muda. Konsentrasi virus tinggi dapat diketahui dari banyaknya pola mosaic yang nampak pada permukaan daun.
Langkah selanjutnya yaitu membuat sap (cairan perasan) dengan menggerus daun terinfeksi dengan menggunakan mortal dan westel pistil, serta menambahkan buffer fosfat. Tujuan dari penambahan larutan buffer pada sap adalah supaya virus yang terdiri dari protein asam nuklet ini tidak rusak setelah keluar dari sel. Perbandingan yang diberikan adalah 1:100 yang artinya 100 ml buffer fosfat untuk 1 gram daun.
Sebelum diinokulasi, daun tanaman indikator ditaburi bahan pembuat luka (abrasi powder carborondum) secara tipis, kemudian diolesi sap dengan cara mencelupkan tangan praktikan ke dalam mortal berisi sap dan mengoleskannya secara searah di atas daun secara perlahan-lahan. Langkah selajutnya adalah membilas daun tersebut dengan air mengalir dan diberi tanda menggunakan label.
Pengolesan sap diperlakukan pada dua daun muda yang sudah membuka penuh pada masing-masing tanaman indikator. Tanaman indikator yang sudah diberi perlakuan tidak boleh ditempatkan di bawah sinar matahari langsung.
Langkah terakhir yaitu mengamati gejala-gejala penyakit yang tumbuh pada tanaman indikator selama masa inkubasi, terutama gejala pada daun yang diberi perlakuan dan pada daun yang baru tumbuh.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan

Data Tabel
3.1.1 Data Kelas (Labolatorium 2)
Kelompok Daun Masa Inkubasi (hari) Tipe Gejala
Lesio Lokal Sistemik
1 1
2
2 1
2
3 1
2
4 1
2
5 1
2
6 1
2

3.1.2 Tabel Pengamatan Tembakau Kelompok 3
Pengamatan Harian Tembakau
Hari ke- Daun Gejala
1 1 Belum timbul gejala
2 Belum timbul gejala
2 1 Daun layu
2 Daun layu
3 1 Daun layu
2 Daun layu
4 1 Daun layu
2 Daun layu
5 1 Daun layu
2 Daun layu
6 1 Daun layu, timbul bercak coklat
2 Daun layu, timbul bercak coklat
7 1 Daun layu, timbul bercak coklat
2 Daun layu, timbul bercak coklat
8 1 Daun layu, timbul bercak coklat
2 Daun layu, timbul bercak coklat
9 1 Daun layu, timbul bercak coklat
2 Daun layu, timbul bercak coklat
10 1 daun layu, mati
2 Daun layu, timbul bercak coklat
11 1 daun mati
2 Daun layu, timbul bercak coklat
12 1 –
2 Daun layu, timbul bercak coklat
13 1 –
2 Daun layu, timbul bercak coklat
14 1 –
2 Daun layu, timbul bercak coklat

3.1.3 Tabel Pengamatan Harian Chenopodium amaranticolor Kelompok 3

Pengamatan Harian Chenopodium amaranticolor
Hari ke- Daun Gejala
1 1 Belum timbul gejala
2 Belum timbul gejala
2 1 Daun layu
2 Daun layu
3 1 Daun agak bergelombang
2 Daun agak bergelombang
4 1 Daun agak bergelombang
2 Daun agak bergelombang
5 1 Timbul bercak putih
2 Timbul bercak putih
6 1 Timbul bercak kuning
2 Timbul bercak kuning
7 1 Timbul bercak kuning
2 Timbul bercak kuning
8 1 Daun+tangkai putus karena rentan
2 Timbul bercak kuning
9 1 –
2 Timbul bercak kuning
10 1 –
2 Timbul bercak kuning
11 1 –
2 Timbul bercak kuning
12 1 –
2 Timbul bercak kuning
13 1 –
2 Daun mati
14 1 –
2 –

Data Foto

Masa Inkubasi Tembakau
(Nicotiana sp.) Chenopodium amaranticolor Keterangan
Hari Ke-0

Belum timbul gejala
Hari Ke-1

Belum timbul gejala
Hari Ke-6

Timbul bercak coklat pada kedua daun tembakau, sedangkan pada daun Chenopodium timbul bercak kuning.
Hari Ke-8

Timbul bercak coklat pada kedua daun tembakau, sedangkan pada daun Chenopodium timbul bercak kuning.
Hari Ke-10

Daun1 tembakau mengalami kematian dan gugur, daun2 layu dan timbul bercak coklat. Sedangkan pada daun1 Chenopodium mengalami kerontokan akibat rentan, daun2 timbul bercak kuning.
Hari Ke-12

Daun1 tembakau mengalami kematian dan gugur, daun2 layu dan timbul bercak coklat. Sedangkan pada daun1 Chenopodium mengalami kerontokan akibat rentan, daun2 timbul bercak kuning.

3.2 Pembahasan

Virus dapat menginfeksi inangnya melalui luka kecil pada tanaman. Setelah virus ini bereplikasi dan memperbanyak diri, tampaklah gejala-gejala penyakit pada tanaman seperti daun menguning, pertumbuhan terganggu, timbul bercak-bercak pada daun dan lainnya.
Tanaman yang terserang virus menunjukkan adanya perubahan bentuk atau morfologi tanaman dan nekrosis (kerusakan jaringan). Keadaan fisiologis tanaman juga terganggu seperti berkurangnya aktivitas fotosintesis, bertambahnya kecepatan respirasi, terjadinya akumulasi senyawa nitrogen seperti senyawa amida, dan penurunan aktivitas zat pengatur pertumbuhan dan sebagainya. Gejala penyakit yang tampak terjadi pada daun, dengan berbagai tipe gejala penyakit tergantung dari macam virus yang menyerang dan tanaman inangnya. Gejala penyakit yang umum dari infeksi virus ialah terhambatnya pertumbuhan yang mengakibatkan menurunnya hasil dan tanaman lebih cepat mati. Gejala penyakit yang ditimbulkannya dapat sangat berat atau sangat ringan,biasanya terdapat pada daun yang masih muda sehingga tidak tampak jelas. Gejala yang paling jelas biasanya terdapat pada daun seperti timbulnya mozaik. Tetapi ada sejumlah virus yang dapat menimbulkan gejala penyakit pada batang, buah, akar dan sebagainya tapi tidak terlihat pada daun.
Kebanyakan penyakit virus tanaman bersifat sistematik dan virus yang menjadi penyebab penyakit tersebut terdapat diseluruh bagian tanaman. Gejala yang ditimbulkannya disebut gejala sistemik. Tetapi untuk virus tertentu dan pada tanaman tertentu, gejala serangnya bersifat lokal dengan timbulnya gejala nekrosa (kerusakan jaringan pada bagian tanaman tertentu) ditempat terjadinya infeksi oleh virus. Gejala semacam ini disebut gejala lesio lokal. Gejala lain akibat terserang virus pada tanaman adalah daun menguning, bercak bercincin atau bergaris, penghambatan pertunbuhan, kerdil, daun menggulung, mengkerut atau berubah seperti tali sepatu, nekrosis, percabangan berbentuk sapu dan sebagainya.
Gejala pada daun terjadi bercak-bercak hijau muda atau kuning yang tidak teratur. Bagian yang berwarna muda tidak dapat berkembang secepat bagian hijau yang biasa, sehingga daun menjadi berkerut atau terpuntir. Jika semai terinfeksi segera setelah muncul, semai dapat mati. Jika tanaman terifeksi setelah dewasa pengaruhnya dapat lemah sekali. Infeksi mosaik pada buah mungkin tidak menimbulkan gejala. Namun jika tanaman terinfeksi sejak awal, buah hanya menjadi kecil, bentuknya menyimpang, dan pada dinding buah mungkin terjadi bercak-bercak nekrotik. Jika mosaik tembakau dan mosaik mentimun mengadakan infeksi secara bersamaaan, pada batang dan buah akan terjadi garis-garis hitam yang terdiri atas jaringan mati.
Beberapa tanaman dapat dijadikan indikator terjadinya infeksi virus. Tanaman indikator yang digunakan pada umumnya merupakan tanaman rentan tetapi beberapa spesies dan kultivar digunakan secara internasional. Pada ketimun Cassia ocidentalis yang diinolkulasi adalah kotiledon daun pertamanya, tetapi pada Chenopodium amaranticolor gejala lesio lokal biasanya berkembang baik pada daun yang telah dewasa. Sap pada beberapa jenis tanaman dapat bersifat toksik terhadap tanaman uji atau mengandung zat penghambat yang sering kali dapat menghambat penularan virus ke tanaman uji.
Adolf Meyer (1883) menunjukkan pertama kali bahwa gejala mosaik ini dapat menular, seperti penyakit bakteri. Keberadaan adanya substansi non-bakteri pertama kali ditunjukkan oleh Dmitri Ivanovski, biologiwan Rusia, pada tahun 1892. Daun sehat yang diolesi ekstrak daun tembakau yang menunjukkan gejala mosaik dapat tertular. Ketika ekstrak itu disaring dengan saringan keramik (yang sangat halus sehingga bakteri pun tidak dapat menembus) dan dioleskan pada daun sehat, daun itu pun tetap tertular. Ivanovski berpendapat ada substansi super kecil yang bertanggung jawab atas gejala tersebut. Martinus Beijerinck mengonfirmasi hal ini. Isolasi pertama kali dilakukan oleh Wendell M. Stanley (1935) dari Institut Rockefeller AS.
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui penularan virus secara mekanis dengan menggunakan tanaman tembakau dan Chenopodium amaranticolor sebagai tanaman indikator. Penularan secara mekanis ini dilakukan dengan cara pelukaan pada permukaan jaringan daun dengan menggunakan carborundum. Pelukaan ini tidak dilakukan dengan menggunakan silet atau jarum karena dapat menimbulkan kerusakan pada tempat masuk virus tersebut. Pelukaan ini dilakukan karena partikel virus tidak mampu menginfeksi sel tanaman secara langsung tanpa adanya luka atau ditularkan oleh vektor. Setelah terjadi pelukaan pada permukaan jaringan daun kemudian dioleskan cairan perasan (sap) dari tanaman tembakau yang terinfeksi oleh tobacco mosaic virus (TMV). Pada dasarnya Tobacco Mosaic Virus (TMV) merupakan virus dengan virulensi kuat sehingga dapat menyebabkan permukaan daun menjadi agak bergelombang, kasar dan mengkerut. Selain itu TMV merupakan virus yang stabil sehingga jika virus itu diinokulasikan pada tanaman lain akan dengan cepat menimbulkan gejala. Sedangkan pada Cucumber Mosaic Virus merupakan suatu virus yang tidak stabil sehingga jika suatu tanaman diinfeksi dengan CMV maka akan menimbulkan gejala, tetapi dibutuhkan waktu yang lama.
Penularan secara mekanik yang dilakukan pada praktikum ini adalah pengolesan cairan yang mengandung virus (sap) pada permukaan daun yang sebelumya telah dilukai dengan carborondum. Pelukaan yang dilakukan bertujuan agar virus dapat masuk ke dalam sel tumbuhan, semakin besar ukuran carborondum maka semakin besar luka, tetapi jika terlalu besar luka tidak baik karena daun akan rusak dan inokulasi tidak akan baik. Pencucian dengan air mengalir pada daun tanaman yang telah diinokulasi dengan sap virus karena saat terjadi pelukaan pada daun, daun tersebut mengeluarkan senyawa fenol (suatu zat yang dikeluarkan tanaman untuk menyembuhkan luka) yang jika tidak dibuang akan mengganggu proses infeksi.
Pembuatan sap dari tanaman yang mengandung TMV dilakukan dalam keadaan netral karena virus terdiri dari protein dan asam nukleat. penggunaan buffer fospat pH 7, dan 0,01 mol untuk menjaga agar lingkungannya dalam keadaaan netral karena virus hanya terdiri dari protein dan asam nukleat yang tidak tahan keadaan ekstrim. Waktu terbaik untuk inokulasi adalah sore hari karena udaranya sejuk, sedangkan pada siang hari suhu tinggi dan metabolisme tanaman terjadi sangat cepat.
Berdasarkan hasil pengamatan penularan secara mekanis pada Chenopodium pada tanaman kontrol tidak menimbulkan gejala. Hal ini disebabkan oleh pemberian sap pada Chenopodium yang tidak terinfeksi oleh TMV. Pada tanaman Chenopodium yang diberi sap TMV rata-rata menimbulkan gejala lesio lokal ditandai dengan adanya bintik putih yang banyak, terdapat mosaik berwarna kuning, hijau tua atau muda membentuk pulau dan daun mengkerut. Selain itu juga timbul gejala nekrosis dan lama-lama daun akan gugur. Pada daun lain menimbulkan gejala bintik putih dan mosaic pada daun.
Pada tanaman tembakau yang diinokulasi TMV rata-rata menimbulkan gejala klorosis. Terdapat gradasi warna daun dari hijau tua, lalu hijau muda dan lama kelamaan menjadi kuning. Tobacco Mosaic Virus ini merupakan virus dengan virulensi kuat sehingga dapat menyebabkan permukaan daun menjadi agak bergelombang, kasar dan mengkerut. Selain itu TMV merupakan virus yang stabil sehingga jika virus itu diinokulasikan pada tanaman lain akan dengan cepat menimbulkan gejala.
Pada tanaman Chenopodium yang diinokulasi dengan CMV akan menimbulkan gejala mosaik yang berwarna kuning dan mulai menyebar. Sedangkan pada tanaman kontrol tidak menimbulkan gejala. Pada tembakau yang diinokulasi dengan CMV timbul gejala mosaik dari hijau tua, hijau muda lalu kekuning-kuningan. Virus CMV ini mempunyai virulensi lemah, sehingga jika suatu tanaman diinokulasi dengan CMV akan timbul gejala namun pada waktu yang lama.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Inokulasi virus secara mekanis merupakan pengolesan cairan yang mengandung virus pada permukaan daun sedemikian rupa sehingga virus dapat masuk ke dalam sel. Pada tanaman tembakau dan Cenopodium amaranticolor yang diinokulasi TMV rata-rata menimbulkan gejala klorosis. Tobacco Mosaic Virus ini merupakan virus dengan virulensi kuat. Selain itu TMV merupakan virus yang stabil sehingga jika virus itu diinokulasikan pada tanaman lain akan dengan cepat menimbulkan gejala. Gejala yang ditimbulkan dapat berupa lesio lokal maupun sistemik. Hal yang penting dalam penularan mekanis adalah dibutuhkan cahaya dan temperatur yang sesuai sehingga inokulasi virus dalam tanaman dapat berjalan dengan baik. Penularan mekanis ini dapat dinyatakan berhasil karena terlihat adanya gejala pada tanaman indikator yang disebabkan oleh virus (Tobacco Mosaic Virus).

DAFTAR PUSTAKA

Agrios, George N. 2005. Plant Phatology: Fifth Edition. Florida: Elsevier Academic Press.
Gibs, A. 1980. Plant Virologi : The Principles. London : Edward Arnold.
[Anonim].2009. http://nananghartoyo.wordpress.com/2009/10/24/mosaik-tembakau-tobacco-mosaic-virus [21 Desember 2009]
[Anonim].2009.http://id.wikipedia.org/wiki/Virus_mosaik_tembakau
[05 Desember 2009]
[Anonim].2009.www.pdfgeni.com [08 Desember 2009]
[Anonim].2009. http://www.indoforum.org [21 Desember 2009]

Laporan Praktikum Sabtu, 28 Desember 2009
Pengantar Ilmu Pertanian Asisten Praktikum:
Ganda N. Renggola (A14052121)

Morfologi Tanah Latosol Darmaga
Dan Tanah Andosol Sukamantri

Disusun oleh:

Nama : Dita Megasari
NIM : A34080049
Kelompok : I
Departemen : Proteksi Tanaman

DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tanah merupakan salah satu komponen terpenting dalam kehidupan di bumi ini, baik untuk bidang kehutanan, pertanian, perkebunan maupun bidang-bidang lainnya. Karena tanah sebagai media untuk tumbuh berbagai tanaman maupun pohon, selain itu tanah juga dimanfaatkan oleh manusia untuk pembangunan contoh tanah berpasir dan tanah berliat (bahan utama untuk batu bata). Selain itu, tanah dapat didefinisikan lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomassa dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.
Tanah tersusun atas empat komponen penyusunnya, yaitu: bahan padatan (berupa bahan mineral), bahan lain (berupa bahan organik, air, udara), Bahan tanah tersebut rata-rata 50%, bahan padatan (45% bahan mineral dan 5% bahan organik), 25% air dan 25% udara.
Tanah mempunyai ciri khas dan sifat-sifat yang berbeda-beda antara tanah di suatu tempat dengan tempat yang lain. Sifat-sifat tanah itu meliputi fisika dan sifat kimia. Beberapa sifat fisika tanah antara lain tekstur, struktur dan kadar lengas tanah. Untuk sifat kimia menunjukkan sifat yang dipengaruhi oleh adanya unsur maupun senyawa yang terdapat di dalam tanah tersebut. Beberapa contoh sifat kimia yaitu reaksi tanah (pH), kadar bahan organik dan Kapasitas Tukar Kation (KTK) (Tegar Abdullah ).

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini yaitu mengetahui jenis tanah di Darmaga dan di Sukamantri, membandingkan morfologi tanah latosol di Darmaga dan tanah andosol di Sukamantri, mempelajari profil tanah latosol dan andosol, serta mengetahui fungsi tanah andosol dan latosol

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

 Definisi Tanah
1. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)
Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus).
2. Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)
Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo = gumpal tanah. Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: bahan induk, iklim, organisme, topografi, dan waktu.
3. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris)
Kata Edaphos = bahan tanah subur. Tanah adalah media tumbuh tanaman

 Struktur Tanah
Salah satu sistem klasifikasi tanah yang telah dikembangkan Amerika Serikat dikenal dengan nama: Soil Taxonomy (USDA, 1975). Sistem klasifikasi ini menggunakan enam (6) kategori, yaitu:
1. Ordo
2. Subordo
3. Great group
4. Subgroup
5. Family
6. Seri
Sistem klasifikasi tanah ini berbeda dengan sistem yang sudah ada sebelumnya. Sistem klasifikasi ini memiliki keistimewaan terutama dalam hal:
1. Penamaan atau Tata Nama atau cara penamaan.
2. Definisi-definisi horison penciri.
3. Beberapa sifat penciri lainnya.
Berdasarkan klasifikasi tersebut, dapat diambil pengertian tanah andosol dan latosol. Tanah andosol adalah tanah yang berasal dari abu gunung api. Tanah andosol terdapat di lerenglereng gunung api, seperti di daerah Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Halmahera, dan Minahasa. Tanah-tanah yang umumnya berwarna hitam (epipedon mollik atau umbrik) dan mempunyai horison kambik; kerapatan limbak (bulk density) kurang dari 0,85 g/cm3, banyak yang mengandung amorf atau lebih dari 60 % terdiri dari abu vulkanik vitrik, cinders atau bahan pyroklastik lain. Vegetasi yang tumbuh di tanah andosol adalah hutan hujan tropis, bambu, dan rumput..
Tanah latosol yaitu tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium. Tanah ini sudah sangat tua, sehingga kesuburannya rendah. Warns tanahnya merah hingga kuning, sehingga sering disebut tanah merah. Tanah latosol yang mempunyai sifat cepat mengeras bila tersing kap atau berada di udara terbuka disebut tanah laterit.Tanah latosol tersebar di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, JawaTimur, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Tanah dengan kadar liat lebih dari 60 %, remah sampai gumpal, gembur, warna tanah seragam dengan dengan batas-batas horison yang kabur, solum dalam (lebih dari 150 cm), kejenuhan basa kurang dari 50 %, umumnya mempunyai epipedon kambrik dan horison kambik. Tumbuhan yang dapat hidup di tanah latosol adalah padi, palawija, sayuran, buah-buahan, karet, sisal, cengkih, kakao, kopi, dan kelapa sawit.

BAB III
DATA

• Foto morfologi Tanah

Tanah Latosol Darmaga

Tanah Andosol Sukamantri

• Data Profil
Data profil terlampir (pada halaman belakang)

BAB IV
PEMBAHASAN

Sifat morfologi tanah adalah sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari dilapangan. Sebagian sifat morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tanah tersebut. Sifat fisik tanah yang berpengaruh pada kegiatan pertanian antra lain tekstur, struktur, konsistensi, kapasitas memegang air, kapasitas infiltrasi, permeabilitas, drainase, kedalaman efektif, dsb. Faktor tanah yang penting adalah kandungan hara yang tersedia makro dan mikro, pH tanah, kandungan bahan organik, kapasitas tukar kation, kadar bahan beracun (misal: Fe, Al-dd) dsb. Sedangkan bahan biologi yang penting adalah jumlah dan aktivitas organisne di dalam tanah. Tindakan-tindakan terhadap tanah umumnya ditunjukkan untuk menambah dan menjamin keseimbangan hara bagi tanaman, mencegah keracunan, kehilangan, dan kerusakan serta memanipulasi kondisi lingkungan hingga sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan taaman dan hewan. Dalam pengelolaan pertanian pemanfaatan maksimal faktor-faktor tersebut harus memperhatikan untuk menjaga produktivitas dan kegunaan tanah secara lestari.
Berdasarkan sifat morfologi tersebut, tanah dapat dibedakan ke dalam profil-profil tanah sesuai sifat morfologinya. Profil Tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah. Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison sbb: O –A – E – B – C – R. Solum Tanah terdiri dari: O – A – E – B. Lapisan Tanah Atas meliputi: O – A. Lapisan Tanah Bawah: E – B. Keterangan: O : Serasah / sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa) A : Horison mineral ber BOT tinggi sehingga berwarna agak gelap. E : Horison mineral yang telah tereluviasi (tercuci) sehingga kadar (BOT, liat silikat, Fe dan Al) rendah tetapi pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi, berwarna terang. B : Horison illuvial atau horison tempat terakumulasinya bahan-bahan yang tercuci dari harison diatasnya (akumulasi bahan eluvial). C : Lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk (R) atau belum terjadi perubahan. R:Bahan Induk tanah.
Tanah latosol yaitu tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium. Tanah ini sudah sangat tua, sehingga kesuburannya rendah. Warns tanahnya merah hingga kuning, sehingga sering disebut tanah merah. Tanah latosol yang mempunyai sifat cepat mengeras bila tersing kap atau berada di udara terbuka disebut tanah laterit.Tanah latosol tersebar di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, JawaTimur, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Tanah dengan kadar liat lebih dari 60 %, remah sampai gumpal, gembur, warna tanah seragam dengan dengan batas-batas horison yang kabur, solum dalam (lebih dari 150 cm), kejenuhan basa kurang dari 50 %, umumnya mempunyai epipedon kambrik dan horison kambik. Tumbuhan yang dapat hidup di tanah latosol adalah padi, palawija, sayuran, buah-buahan, karet, sisal, cengkih, kakao, kopi, dan kelapa sawit.
Andosol adalah tanah yang berbahan induk abu volkan, merupakan tanah yang relative muda dibandingkan latosol dan podsolik, yang sifat-sifatnya sangat ditentukan oleh mineral liat yang dikandungnya yaitu alofan yang bersifat amorf. Tanah ini mempunyai horizon A1 tebal yang berwarna hitam karena kaya bahan organic, tetapi tidak mempunyai horizon A2, dengan horizon B berwarna kuning pucat, coklat kekuningan atau coklat diikuti dengan endapan abu volkan terlapuk sampai ke horizon C. umumnya mempunyai kejenuhan basa relative rendah tetapi mempunyai Al dapat ditukar relative tinggi. Terbawa oleh sifat mineral liat dominan yang dimilikinya maka andosol mempunyai sifat tiksotrofik, mempunyai kemampuan megikat air besar, porositas tinggi, bobot isi rendah, gembur, tidak plastis, dan tidak lengket serta kemampuan fiksasi fosfat yang tinggi.
Tanah podsolik adalah tanah yang mempunyai solum agak tebal (1-2 m), warna tanah merah hingga kuning, batas horizon nyata, tekstur beragam , struktur gumpal pada horizon B, konsistensi teguh samapi gembur. Tanah podsolik merupakan tanah yang mempunyai horizon B argilik, kejenuhan bas kurang dari 50% sejurang-kurangnya horizon B didalam penampung 125 cm dari permukaan. Adanya horizon argilik menunjukkan proses pembentukan tanah podsolik yang utama adalah liksiviasi (pencucian tanah). Sedangkan tanah latosol adalah tanah bersolum dalam, mengalami pencucian dan pelapukan lanjut, berbatas horizon baur, kandungan mineral primer dan unsure hara rendah, konsistensi gembur dengan stabilitas agregat kuat dan terjadi penumpukan relative seskwioksida di dalam tanah akibat pencucian silikat. Warna tanah merah, coklat kemerahan, coklat, coklat kekuningan atau kuning tergantung bahan induk. Warna batuan, iklim dan letak ketinggian. Di Indonesia ditetukan terutam di daerah volkanik baik berasal dari tufa maupun batuan beku.
Praktikum ini membahas tentang morfologi tanah di Darmaga (Cikabayan dan belakang asrama puteri Instititut Pertanian Bogor), dan di Sukamantri, Bogor. Dalam pengamatan dan data yang diperoleh, masing-masing tanah dapat dibedakan berdasarkan ciri morfologinya. Secara keseluruhan, Tanah di Darmaga (Bogor) mempunyai warna yang lebih cerah dibandingkan tanah di Sukamantri. Selain itu, berdasarkan ciri fisik, kimia, dan biologi, tanah di Darmaga digologkan dalam tanah latosol. Sedangkan tanah tanah di Sukamantri digolongkan tanah andosol. Perbedaan lainnya yaitu horizon tanah latosol Darmaga baur (susah dibedakan horizonnya), Sedangkan tanah di Sukamantri relative lebih mudah. Data lain menunjukkan bahwa tanah di Sukamantri ini mengalami pencucian yang cukup intensif, pencucian intensif dapat menyebabkan tanah ini berkembang menjadi tanah podsolik.
Perbedaan lain yang dapat dilihat yaitu vegetasi yang tumbuh pada masing-masing lahan berbeda-beda. Vegetasi pada lahan di Dramaga terlihat lebih dominan tanaman tahunan, diantaranya jati dan kelapa sawit. Sedangkan lahan di Sukamantri mayoritas vegetasinya tanaman musiman, yakni sayur-sayuran.

BAB V
KESIMPULAN

Tanah mempunyai berbagai morfologi tertentu. Sifat morfologi tanah adalah sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapangan. Sebagian sifat morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tanah tersebut. Ada beberapa jenis tanah, diantaranya adalah latosol, andosol, podsolik, oksisol, dll. Ada dua lokasi pengamatan, yaitu di daerah Darmaga dan daerah Sukamantri. Berdasarkan data yang diperoleh dalam pengamatan, dapat disimpulkan bahwa setiap profil tanah mempunyai sifat morfologi yang berbeda-beda. Perbedaan ini meliputi: kwdalaman lapisan, batas horizon, warna, tekstur, struktur, konsistensi, perakaran, dan vegetasi flora sekitarnya. Tanah Sukamantri adalah tanah andosol yang notabene adalah tanah yang berbahan induk abu volkan, merupakan tanah yang relatif muda dibandingkan latosol dan podsolik, tanah andosol tersebut cocok untuk budidaya holtikultura dan kebun teh. Tanah Darmaga adalah tanah latosol yang bersolum dalam, mengalami pencucian dan pelapukan lanjut, berbatas horizon baur, kandungan mineral primer dan unsur hara rendah, konsistensi gembur dengan stabilitas agregat kuat dan terjadi pemupukan relatif seskwioksida di dalam tanah sebagai akibat pencucian silikat.

DAFTAR PUSTAKA

Buckman, H.O. and Brady, N.C. 1974. The Nature and Propreties of Soil. Mcmillan Pub, Inc.New York. 639 p.

http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/sistem-klasifikasi-tanah-nasional/index.

[Tanggal akses 27 Desember 2009]
http://klikdynasis.net/ [Tanggal akses 06 Desember 2009]
Munir, Moch. 1995. Tanah-Tanah Utama di Indonesia Karakteristik, Klasifikasi dan pemanfaatannya. Pustaka Jaya. Jakarta.
Nugraha, J.R. 1984. Diktat Ilmu Tanah. Direktorat Program Diploma, Institut Pertanian Bogor. Bogor.t
Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000. Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian .
Sanchez, P. 1976. Propreties and Management of Soil in the tropics. John Willey & Sons. Inc. 411p.
Soepraptohardjo, M. dkk. 198?. Pedoman Pengmatan Tanah di Lapang. Lembaga Penelitian Tanah, Departemen Pertanian. Bogor
Tan, K . H . 1998. Andosols. Van Norstand Reinhold Company Inc. New york.